banner 728x250
Berita  

Ekspor Sayuran Beku Mitratani Dua Tujuh Merambah Lima Benua, Gandeng 2.000 Petani

banner 120x600
banner 468x60

Narasinegeri.my.id|| TANGERANG – PT Mitratani Dua Tujuh, perusahaan agroindustri asal Indonesia yang berfokus pada pengolahan dan pemasaran sayuran beku, membidik nilai penjualan sekitar Rp180 miliar melalui peluang transaksi ekspor dan pasar domestik. Perusahaan optimistis nilai tersebut masih berpotensi meningkat seiring terbukanya peluang kerja sama baru dengan pembeli dari berbagai negara.

Direktur PT Mitratani Dua Tujuh, Yogi Subaktyana, menyampaikan hal tersebut saat ditemui di sela-sela Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Rabu (14/10/2026).

banner 325x300

Yogi menjelaskan, perusahaan telah mengantongi letter of intent (LOI) untuk pasar Jepang dengan nilai sekitar Rp99,8 miliar. Sementara itu, potensi penjualan di pasar domestik mencapai sekitar Rp79 miliar. Selain itu, terdapat peluang transaksi lain di luar LOI yang nilainya diperkirakan sekitar Rp11 miliar.

“Totalnya kurang lebih Rp180 miliar dan kami optimistis bisa lebih dari itu. Masih ada peluang-peluang baru yang sedang kami jajaki,” ujar Yogi.

Menurutnya, Jepang masih menjadi pasar utama Mitratani Dua Tujuh dengan kontribusi hampir 60 persen dari pasar ekspornya. Namun, perusahaan terus memperluas jangkauan pemasaran hingga ke berbagai negara di lima benua, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Yunani, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Singapura, India, Uni Emirat Arab, dan Mesir.

Ekspansi tersebut menunjukkan upaya perusahaan untuk memperkuat posisi produk agroindustri Indonesia di pasar internasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional.

Adapun produk unggulan yang dipasarkan meliputi edamame, okra, pare atau bitter gourd, terong Jepang, ubi jalar, serta berbagai produk sayuran beku lainnya. Mitratani Dua Tujuh juga mengembangkan inovasi produk bernilai tambah, salah satunya edamame dengan varian rasa pandan, guna menjawab kebutuhan konsumen yang semakin beragam.

Yogi menegaskan, keberhasilan menembus pasar ekspor tidak terlepas dari konsistensi perusahaan dalam menjaga kualitas dan memenuhi standar keamanan pangan di negara tujuan. Setiap pasar memiliki ketentuan berbeda, mulai dari regulasi impor, sertifikasi, batas residu pestisida, hingga persyaratan mikrobiologi.

“Kami harus mengikuti regulasi di negara tujuan dan memastikan seluruh produk memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Sebelum dikirim, produk kami menjalani pengujian terlebih dahulu. Pembeli juga kami persilakan melakukan audit ke pabrik maupun ke lapangan,” jelasnya.

Menurut Yogi, kepatuhan terhadap standar tersebut menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan pembeli internasional. Kepercayaan yang terjaga diharapkan mampu memperkuat hubungan bisnis jangka panjang sekaligus membuka peluang peningkatan volume ekspor.

Ke depan, perusahaan akan terus meningkatkan produktivitas tanaman, menjaga mutu, serta memastikan kontinuitas pasokan. Langkah ini dinilai penting agar setiap pesanan dapat dipenuhi tepat waktu dengan kualitas sesuai kesepakatan bersama pembeli.

Selain berorientasi pada ekspor, Mitratani Dua Tujuh juga memperkuat kemitraan dengan petani lokal. Saat ini, perusahaan bekerja sama dengan sekitar 2.000 petani untuk mendukung ketersediaan bahan baku sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk.

“Kami tidak bekerja sendiri. Ada sekitar 2.000 petani yang bermitra dengan kami. Kemitraan ini penting agar produktivitas dan kualitas hasil pertanian terjaga, sehingga kebutuhan pasar dapat dipenuhi secara berkelanjutan,” kata Yogi.

Ia menambahkan, pengembangan agroindustri berbasis kemitraan diharapkan memberikan manfaat bagi petani sekaligus memperkuat rantai pasok produk pertanian Indonesia. Dengan demikian, peningkatan ekspor tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang terlibat dalam proses produksi.

Didirikan pada 1994, PT Mitratani Dua Tujuh memiliki kapasitas produksi sekitar 12.000 ton per tahun. Perusahaan mencatat volume ekspor rata-rata sekitar 8.000–10.000 ton per tahun dan terus mengembangkan pasar domestik, yang menurut Yogi menyerap sekitar 20–25 persen dari pemasarannya.

Yogi juga melihat edamame memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai produk pangan sehat Indonesia. Kandungan protein dan kepraktisannya menjadikan edamame berpotensi menjangkau konsumen yang semakin memperhatikan pola makan sehat.

Melalui partisipasinya dalam TEI ke-41, Mitratani Dua Tujuh berharap dapat memperluas jejaring bisnis, memperkuat kepercayaan pembeli, serta memperkenalkan lebih banyak produk unggulan Indonesia kepada pasar global.

Trade Expo Indonesia 2026 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 dengan tema “The Ultimate Hub for Global Sourcing”. Pameran yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan tersebut menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan eksportir Indonesia dengan pembeli internasional, memperluas akses pasar, dan mendorong peningkatan ekspor produk unggulan nasional.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *