
Hal tersebut disampaikan Co Founder Sinar Hijau Ventures (SHV) Anna Urbinas saat menjadi salah satu pembicara dalam I-CAN Think Forum 2026 bertema “Who Holds the Pen? Evidence, Communities, and Indonesia’s Nature-Positive Transition” di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor, Kamis (13/8/2026).
Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, sektor swasta, komunitas hingga media, untuk membahas bagaimana pengetahuan, bukti, dan peran masyarakat dapat memperkuat agenda transisi Indonesia menuju pembangunan yang berdampak positif terhadap alam.

I-CAN merupakan pusat riset terapan di bawah Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang dibangun melalui kolaborasi IPB University dan University of Waterloo melalui FINCAPES Project dengan dukungan pendanaan dari Global Affairs Canada.
Kegiatan diawali pemutaran film dokumenter internasional “Becoming Nature Positive”, produksi Nature Positive Initiative bersama Open Planet Studios. Film tersebut sebelumnya ditayangkan perdana di Climate Hub Davos dalam rangka World Economic Forum Annual Meeting pada Januari 2026.
Dalam sesi diskusi, Anna menjelaskan pengalaman Sinar Hijau Ventures membangun model bisnis sosial yang berorientasi pada pemberdayaan petani lokal di Maluku.
SHV yang berdiri pada 2019 merupakan social enterprise yang menjalankan kegiatan operasional di Maluku. Perusahaan tersebut saat ini telah bekerja sama dengan 11 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), khususnya di wilayah Seram Bagian Barat.
Menurut Anna, kehadiran SHV berangkat dari persoalan masih terbatasnya dukungan terhadap petani, khususnya dalam peningkatan kapasitas, penciptaan nilai tambah produk, hingga akses menuju pasar yang lebih luas.
“Bagi kami, petani itu seperti nadi dalam tubuh manusia. Mereka yang mengalirkan darah dari kepala sampai kaki. Karena itu, yang kami lakukan lebih banyak capacity building,” kata Anna.
Ia menegaskan, membangun kapasitas petani bukanlah pekerjaan yang dapat menghasilkan keuntungan secara instan. Namun, proses tersebut menjadi fondasi penting untuk menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
SHV, lanjut Anna, berupaya menjembatani petani dengan pasar atau bridging farmers to market. Pendekatan tersebut dilakukan dengan meningkatkan kualitas produk, memperkuat kapasitas petani, serta membuka akses terhadap pasar yang memberikan nilai dan harga yang lebih adil.
“Kami percaya dengan kualitas produk yang baik, harga yang adil, dan fair market, petani bisa mengakses pasar internasional,” ujarnya.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada 2025, SHV berhasil melakukan ekspor komoditas pala, fuli, dan bunga pala sebanyak sekitar 7,5 ton ke pasar internasional.
Setelah program penguatan kapasitas bersama mitra internasional berakhir pada 2025, SHV memilih untuk melanjutkan pendampingan secara mandiri. Anna menyebut keberlanjutan program tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja sehingga kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan menjadi kebutuhan penting.
SHV kemudian menggandeng sejumlah universitas lokal di Maluku untuk memperkuat program peningkatan kapasitas petani, termasuk pengembangan dan penelitian produk turunan komoditas lokal.
“Ketika berbicara sustainability, kami sadar bahwa kami tidak bisa sendirian. Kami membutuhkan dukungan universitas dan stakeholder lainnya,” kata Anna.
Dorong Hilirisasi dan Zero Waste
Selain memperluas akses pasar, SHV juga tengah mengembangkan hilirisasi komoditas rempah agar petani tidak hanya bergantung pada penjualan produk mentah.
Perusahaan tersebut sedang membangun mini industri di Maluku untuk mengembangkan berbagai produk turunan, antara lain minyak atsiri, bubuk pala, dan bubuk cengkih.
Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas sekaligus menciptakan manfaat yang lebih besar bagi petani.
Di sisi lain, pendekatan nature-positive juga diterapkan melalui pemanfaatan limbah hasil pertanian. SHV mengembangkan pemanfaatan kulit luar komoditas seperti pala dan kenari yang selama ini kerap ditinggalkan di sekitar kawasan produksi.
Material tersebut diarahkan untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi, antara lain biochar dan briket.
“Biasanya petani memecahkan buahnya, kemudian bagian kulitnya ditinggalkan di hutan dan menjadi waste. Sekarang kami juga mendidik petani bahwa limbah tersebut memiliki nilai ekonomi,” jelas Anna.
SHV juga menggandeng sejumlah perguruan tinggi untuk melakukan penelitian terhadap produk turunan lainnya, termasuk pengembangan minyak kenari dan berbagai inovasi berbasis komoditas lokal.
Bisnis sebagai Bagian dari Ekosistem
Anna menilai paradigma bisnis perlu bergeser dari sekadar mengejar efisiensi dan keuntungan menuju model yang menempatkan masyarakat serta lingkungan sebagai bagian integral dari proses bisnis.
Menurut dia, prinsip fairness harus menjadi bagian dari rantai nilai, termasuk memastikan masyarakat yang bekerja di dalam ekosistem usaha memperoleh manfaat yang layak.
“Kita tidak bisa hanya melihat petani sebagai pekerja. Aspek fairness harus integral dalam proses bisnis,” ujarnya.
Ia menambahkan, gagasan tersebut tidak terlepas dari pengalaman sebelumnya ketika bekerja dalam program-program yang berkaitan dengan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Dari pengalaman tersebut, Anna melihat bahwa berbagai program pemberdayaan yang telah dilakukan akan sulit memberikan dampak jangka panjang apabila tidak diikuti dengan akses pasar bagi masyarakat yang telah didampingi.
“Kalau program sudah didukung secara internasional, tetapi tidak ada yang membantu bagaimana petani yang sudah didukung itu bisa mengakses pasar, program tersebut bisa selesai begitu saja,” katanya.
Karena itu, SHV mencoba mengisi ruang tersebut dengan membangun model usaha yang menghubungkan petani dengan pasar, sekaligus menjaga aspek lingkungan dan sosial.
Menurut Anna, pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung transisi nature-positive dari sisi hulu hingga hilir.
“Kita tidak bisa mendorong hilirisasi kalau hulunya tidak kita dukung. Karena itu, kami dukung dulu petani supaya produk yang dihasilkan bisa lebih positif dan hilirisasi juga bisa berjalan,” tegasnya.
Saat ini, SHV fokus memberdayakan petani lokal melalui komoditas seperti pala, vanili, kenari dan cengkih dengan pendekatan agroforestri berkelanjutan.
Melalui pendekatan tersebut, SHV berupaya menjaga kelestarian ekosistem hutan sekaligus membuka akses pasar yang lebih adil bagi petani serta meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Bagi Anna, membangun bisnis yang berkelanjutan pada akhirnya bukan hanya mengenai seberapa besar nilai ekonomi yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana nilai tersebut dapat dibagi secara lebih adil sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat dan alam.


















