JAKARTA — Suasana berbeda terlihat di kawasan Cagar Budaya Batu Penggilingan, Jalan Kalibuaran, Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Puluhan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau Pasukan Oranye berbaris dalam formasi untuk mengikuti lomba Peraturan Baris-Berbaris (PBB).
Lomba tersebut menjadi bagian dari rangkaian Festival Batu Penggilingan IV yang melibatkan PPSU dari 20 kelurahan di Jakarta Timur.
Sekitar 400 peserta dari wilayah Kecamatan Cakung, Matraman dan Pulogadung mengikuti perlombaan. Mereka diuji tidak hanya dari ketepatan gerakan, tetapi juga kekompakan, kedisiplinan dan kemampuan bekerja sebagai sebuah tim.
Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PAN Komisi B, Syahroni, mengatakan lomba PBB merupakan salah satu upaya membangun karakter disiplin di kalangan petugas PPSU.
“Tujuannya memberikan rasa disiplin kepada mereka, tepat waktu dan kekompakan dalam tim,” ujar Syahroni.
Ia mengatakan PPSU selama ini memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan dan menata lingkungan. Karena itu, kegiatan yang menekankan kedisiplinan dan kekompakan dinilai dapat mendukung pelaksanaan tugas mereka di lapangan.
Syahroni menegaskan Festival Batu Penggilingan IV tidak dirancang hanya sebagai kegiatan seremonial. Setiap rangkaian kegiatan diarahkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Salah satu fokus festival tahun ini adalah pemilahan sampah dari sumbernya. Warga dan PPSU akan bergerak bersama membersihkan kawasan sepanjang pinggir kali, merapikan lingkungan, menata gang dan mempercantik sejumlah titik yang menjadi ruang interaksi masyarakat.
“Kita ingin setelah kegiatan ini teman-teman bisa lebih disiplin, kemudian lingkungan sendiri menjadi rapi, bersih dan tertata,” katanya.
Ketua Panitia Festival Batu Penggilingan IV, Ustaz Muhammad Sehu atau Suhe, mengatakan lomba PBB juga menjadi sarana memperlihatkan keterampilan PPSU kepada masyarakat.
“Kita undang PPSU untuk menampilkan keterampilan-keterampilan berbarisnya. Selama ini mereka bekerja, kita tunjukkan juga kepada masyarakat bahwa mereka bisa berbaris,” kata Suhe.
Menurutnya, terdapat 20 peserta yang mengikuti perlombaan. Panitia juga menyiapkan hadiah dari dukungan sejumlah sponsor sebagai bentuk apresiasi bagi para peserta.
Suhe berharap kegiatan tersebut dapat menjadi tradisi yang semakin baik setiap tahun.
“Tahun ini mereka mencoba yang pertama. Insyaallah ke depan bisa lebih baik lagi,” ujarnya.
Festival Batu Penggilingan IV kemudian dilanjutkan dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat. Selain aksi kebersihan dan pemilahan sampah, panitia menghadirkan bazar UMKM serta pentas seni budaya.
Sejumlah kegiatan seperti hadrah dan lomba rebana juga menjadi bagian dari rangkaian acara. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat interaksi masyarakat sekaligus menghidupkan kembali budaya lokal.
Festival Batu Penggilingan digelar untuk memperkenalkan kawasan cagar budaya yang memiliki kaitan dengan sejarah industri gula pada masa lampau.
Suhe mengatakan masyarakat perlu memahami sejarah di balik nama Penggilingan agar keberadaan situs tersebut tetap terjaga.
“Kita berharap bisa merasa memiliki Batu Penggilingan yang bersejarah ini dan bisa memeliharanya sampai anak cucu kita,” tuturnya.
Ia menjelaskan Batu Penggilingan tidak berkaitan dengan aktivitas penggilingan padi. Kawasan tersebut memiliki sejarah sebagai lokasi penggilingan gula pada masa lampau.
Melalui Festival Batu Penggilingan IV, panitia berharap semangat menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan upaya melestarikan sejarah dan budaya lokal Jakarta Timur.



















